PUBLIC SPEAKING
(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

Penyebutan public speaking tidak begitu populer di kalangan masyarakat umum. Namun demikian masyarakat sering mempraktikan public speaking ini saat berkomunikasi atau menyampaikan gagasan. Penyampaian gagasan sering terjadi mulai dari skup terkecil sampai kepada skup terbesar. Ketua RT mengumpul warganya kemudian menyampaikan pesan di hadapan semua warga. Guru berbicara di hadapan para siswanya. Khatib berkhutbah di masjid. Penceramah berbicara di hadapan jamaahnya. Sales mempresentasikan produksi perusahaannya di hadapan para konsumen. Presiden menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan para menteri dan para pejabat Negara.
Secara sederhana Publik Speaking adalah berbicara di hadapan orang banyak dan berkaitan dengan retorika atau seni berbicara. Berbicara di muka umum merupakan sebuah keterampilan yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Apa pun peran seseorang di masyarakat seperti mekanik, arsitek, pebisnis, dokter, manager, sekretaris, kunsultan, politikus, guru, dosen, penceramah, staff bahkan sampai Ibu rumah tangga perlu terampil dalam public speaking agar orang lain menerima gagasannya.
Semakin tinggi jabatan seseorang semakin perlu keterampilan public speaking. Hal ini agar lincah ketika memimpin rapat, memotivasi karyawan dalam bekerja, melakukan briefing atau memberikan pengarahan di hadapan para karyawan. Terampil dalam public speaking akan banyak pengaruhnya dalam mewujudkan kebaikan dan kemajuan suatu lembaga. Audiens sangat senang menangkap dan melaksanakan gagasan dalam penyampaian itu.
Kemampuan berbicara di hadapan umum berbeda-beda antar orang per orang. Masing-masing ada yang gaya berbicaranya mendapat tanggapan dan perhatian serius dari audiensnya, tapi ada juga yang kurang bahkan tidak mendapat perhatian pendengarnya. Kalau kita sedikit mengamati seorang penceramah yang mendapat perhatian jamaah misalnya, tekadang tingkat pendidikan dan materi ceramahnya biasa saja namun gaya bicara dan penyampaiannya maksimal sehingga mendapat simpati yang luar biasa. Sebaliknya ada penceramah materinya luar biasa tetapi cara penyampaiannya tidak maksimal, sehingga tidak mendapat perhatian dari penontonnya.
Public speaking berbeda dengan berbicara biasa. Bentuknya lebih formal dan dengan menggunakan bahasa resmi. Karena itu orang yang tidak terbiasa berbicara di hadapan orang banyak secara resmi akan terlihat kaku, walaupun secara non formal pandai berbicara. Selain menguasai ilmu, materi, pesan atau gagasan pemaparan, seseorang juga harus selalu melatih dan membiasakan diri berbicara di hadapan umum. Pembiasaan ini dalam rangka menghindari demam panggung yang sering terjadi saat melakukan public speaking.
Demam panggung berpengaruh pada kondisi fisik sebelum atau pada saat tampil. Detak jantung lebih cepat, keluar keringat dingin pada bagian tubuh tertentu, tangan gemetar, lutut terasa lemas, tenggorokan terasa tercekat, perut terasa sakit dan ingin buang air dan tidak bisa mengingat materi pemaparan. Bagi yang sudah terlatih dan terbiasa tampil maka perasaan gugup, cemas, grogi atau demam panggung akan teratasi.
Keberhasilan public speaking selain faktor membiasakan diri, juga melakukan persiapan yang matang sebelum tampil. Bagaimanapun semua kegiatan pasti perlu persiapan, apalagi melakukan public speaking berhadapan dengan banyak audiens yang akan menilai hasil pemaparan. Suatu pribahasa ada mengatakan “Siapa naik mimbar tanpa persiapan, dia akan turun tanpa penghormatan”. Pribahasa ini menunjukan pentingnya persiapan dalam public speaking.
Persiapan tersebut menyangkut persiapan materi, persiapan mental dan persiapan fisik. Menyangkut persiapan materi, orang yang melakukan public speaking terlebih dahulu menguasai materi yang akan disampaikan. Pemateri memiliki wawasan yang luas dan tidak bisa hanya mengetahui apa adanya. Materi bagaikan bahan sajian yang akan disuguhkan kepada pendengar.
Semakin luas wawasan pengetahuan tentang suatu topik pembicaraan tentu semakin mudah menyampaikan. Penguasaan materi salah satu kunci utama keberhasilan melakukan public speaking. Orang yang menguasai bahan akan lebih mampu berkonsentrasi dalam penyampaian. Menguasai materi akan mampu membuka, menyampaikan pesan dan menutup pembicaraan dengan baik.
Selain persiapan materi, penting juga persiapan mental agar mampu menarik perhatian pendengar. Kepercayaan diri atau orang menyebutnya PD (Percaya Diri) sebagai unsur penting ketika berbicara di hadapan umum agar mental selalu tegar.
Menurut pakar komunikasi bahwa visualisasi diri erat kaitannya dengan kepercayaan diri dalam menciptakan kekuatan mental. Menggambarkan diri sendiri sesuai apa yang menjadi keinginan. Mental yang kuat akan banyak mengeluarkan energi positif hingga tampil maksimal.
Upaya menguatkan mental antara lain menanamkan perasaan dalam diri bahwa semua yang hadir adalah orang biasa, walaupun kenyataannya ada juga orang yang luar biasa. Suatu nasihat guru pembimbing muhadharah (latihan berpidato) beberapa tahun yang lalu pernah mengatakan : “Supaya mental kuat dan jangan gugup waktu berpidato, anggap saja saat berbicara seakan-akan di hadapan ‘tunggul’ (tongkat) yang tidak akan mencampuri pembicaraan kita”. Namun jangan pula terlalu percaya diri hingga lupa diri. Termasuk penguat mental do’a kepada Allah agar Dia memberikan kekuatan batin dan memfasihkan lidah ketika berbicara.
Selain persiapan materi dan persiapan mental perlu pula persiapan fisik. Penampilan wajah yang simpatik ikut mempengaruhi audiens untuk setia menyimak pembicaraan. Beberapa cara memperkuat fisik agar bisa tampil mempesona. Makan, tidur dan istirahat yang cukup agar saat tampil tidak kelihatan lelah. Mengatur keluar masuk nafas secara sempurna agar mampu berbicara dengan tenang. Melakukan kontak mata dengan publik agar mereka merasa mendapat perhatian dan kemudian akan memberikan perhatian. Bila tidak mampu menatap mata publik secara langsung tatapan mata setidaknya terpokus ke area dahi.
Ketika berada di panggung atau tempat berbicara, selain menatap semua yang hadir, juga menggunakan gerak tubuh dan ekspresi yang tepat serta berbicara dengan suara yang jelas dan sopan. Berpenampilan dengan pakaian rapi dan pantas termasuk cara menarik perhatian. Apabila perlu menggunakan alat bantu visual sebaiknya yang menarik agar audiens tidak bosan. Membantu kekuatan fisik juga yaitu melemaskan otot sebelum tampil agar bisa relaks dan tidak kelihatan kaku.
Public speaking atau kemampuan berbicara di hadapan orang banyak sangat penting agar penyampaian gagasan mendapat respon dari publik. Pesan kebaikan harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Nabi pernah bersabda yang artinya : “Sampaikan sesuatu dari aku walaupun hanya satu ayat”. Sabda nabi ini memberi isyarat agar umat Islam mampu berbicara di hadapan umum dan menyuarakan kebenaran dengan jitu. Semoga berkat kepandaian menyampaikannya kebenaran akan menjadi pilihan utama masyarakat.
*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri







