MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI
(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

Sebuah video singkat di media sosial memvisualkan kreasi baru dari para pemburu di Amerika Serikat. Kreasi tersebut berupa cara mudah dan praktis untuk menangkap monyet. Karena monyet termasuk binatang lincah dan ada pula monyet liar, maka siapa saja susah menangkapnya kalau tidak menggunakan cara yang jitu.
Selama ini orang menangkap monyet dengan menggunakan perangkap atau pengikat. Apabila monyet masuk perangkap dia tidak bisa keluar lagi atau menginjak tali pengikat maka tangan dan kakinya terikat. Cara ini tidak begitu praktis karena tidak mudah membuat alatnya dan terkadang monyet paham kalau itu sebuah perangkap.
Lebih ekstrem lagi ada yang menagkap monyet terlebih dahulu menembaki dan melukai tubuhnya. Manakala monyet cidera tubuhnya dan tidak berdaya lari barulah bisa menangkapnya. Cara seperti ini tentu tidak praktis juga dan bahkan termasuk menyakiti binatang.
Alat praktis menangkap monyet dalam video di media sosial tersebut sangat gampang membuatnya. Tidak memerlukan biaya mahal, tidak pula sampai melukai badan dan mencederai anggota tubuhnya. Hanya kebodohan dan ketidak mengertian monyet saja dia menjadi terperangkap. Monyet terkecuh, tidak bisa lepas dan tidak bisa lari sehingga pemburu mudah sekali menangkapnya.
Pembuatan alatnya sangat sederhana. Bahan terbuat dari toples yang ada rongganya dan bermulut kecil sebatas masuk tangan monyet. Dalam tayangan video itu, di area yang biasa monyet berkeliaran toples ditanam kuat di tanah agar tidak bisa dipindahkan dan mulut toples dalam keadaan terbuka. Kemudian toples yang sudah tertanam kuat itu dimasukan biji-biji kacang beraroma harum.
Monyet mencium aroma harum biji-biji kacang dalam toples itu. Nafsunya tertarik untuk mengambil biji-biji kacang itu. Dia masukan tangannya ke dalam toples dan diapun menggenggam erat biji-biji kacang itu tanpa mau melepasnya. Akibat genggaman tangannya yang erat dan tidak mau melepaskannya lagi, tangannya tidak bisa keluar dari toples itu.
Beberapa waktu kemudian pemburu datang. Monyet mengira kedatangan pemburu untuk merebut genggaman biji kacangnya. Semakin erat dia memegang dengan genggamannya, semakin tidak bisa pula dia mengeluarkan tangannya. Pemburu kemudian dengan mudah sekali menangkap monyet tanpa biaya besar dan tanpa mencederainya.
Melihat pemandangan seperti ini, sebagai manusia berakal bisa saja mengatakan monyet itu bodoh sehingga terperangkap. Menertawakan monyet sejadi-jadinya karena nafsu besar dan tidak mau mengurai genggaman sehingga badan binasa. Andai monyet ada akal dia urai genggaman pasti bisa mengeluarkan tangannya. Dasar monyet bodoh tidak punya akal. Andai monyet menahan nafsunya dia lepas genggaman biji kacangnya, pasti dapat mengeluarkan tangannya dan selamat dari tangkapan pemburu. Nafsunya besar dan tidak mau melepas genggaman membuat dirinya celaka.
Pelajaran berharga dari kejadian ini, kita telah menertawakan monyet karena kebodohan dan nafsu besarnya. Kita tertawa karena monyet begitu kuat menggenggam kebodohan dan nafsu sehingga diri binasa. Bolehlah kita menertawakannya karena memang dia tercipta sejak asal tidak punya akal, hanya mempunyai nafsu. Tetapi, bagaimana dengan kita yang memiliki akal dan punya kemampuan mengendalikan nafsu ini?
Jangan jangan selama ini kita tertawa karena tingkah laku monyet, tapi tanpa sadar juga menertawakan diri sendiri. Bisa jadi selama ini kita termasuk manusia seperti monyet yang erat menggengam kebodohan sehingga tersesat kehidupan. Boleh jadi kita termasuk manusia yang mempertahakan genggaman nafsu dengan kuat sehingga hidup terperangkap dalam jaringan kebinasaan. Boleh jadi kita tidak mau mencari jalan keluar dari kesusahan hanya karena mempertahankan ego dan kebiasaan.
Mengenggam kebodohan adalah tidak mau meningkatkan pengetahuan. Malas belajar agama sehingga tidak mengerti hak dan kewajiban. Agama tidak dijadikan tuntunan, hanya sebagai penghias karenanya tidak paham apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Beriman tapi tidak paham rukun iman dan berislam tapi tidak menjalankan syariat Islam. Hidup jauh dari tuntunan agama dan terkadang menganggap agama sebagai penghalang kemajuan.
Manusia akan terperangkap dalam jaringan kehinaan dan kenistaan apabila selama hidup tidak memperdulikan tuntunan agama. Mempelajari agama dan mengamalkannya dalam kehidupan pasti memperoleh kebahagiaan dunia sampai akhirat. Agama selalu menuntun manusia agar berhati-hati jangan sampai terjebak pada kebahagiaan sesaat tetapi mengalami penderitaan panjang. Jebakan kemaksiatan terkadang menggiurkan karena setan menghiasi nafsu manusia dengan kelezatan.
Setan selalu berusaha menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan. Tidak mustahil kalau monyet kembali menertwakan manusia yang masuk dalam jebakan setan, sebagai akibat menggenggam kebodohan dan menuruti nafsu serakahnya. Propaganda setan merayu manusia hingga mengalami kesengsaraan dunia akhirat. Manusia akan kehilangan perasaan takut ketika berbuat maksiat. Kehilangan perasaan malu saat berbuat salah. Hilang kesadaran bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan akhirat yang kekal.
Secara kudratnya Allah Swt menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan sangat jauh berbeda dengan binatang. Atas dasar ini wajar manusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hidup. Binatang tidak mempunyai akal sehingga tidak ada kewajiban dan tidak dituntut pertanggung jawabannya.
Potensi akal dan perasaan apabila berperan sesuai kehendak penciptanya maka kemuliaan hidup akan selalu terjaga. Memerankan akal dengan berpikir dan memerankan perasaan dengan berdzikir. Berpikir dan berdzikir sebagai upaya memperkuat kemampuan mendeteksi sesuatu. Landasan berpikir adalah ilmu dan landasan berdzikir adalah menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.
Ilmu dan ibadah dua hal yang tidak bisa terpisah satu sama lain. Perintah mencari ilmu dan perintah mengerjakan ibadah sangat jelas syariatnya. Jika tidak peduli ilmu dan ibadah, membiarkan diri buta agama, tidak mentaati perintah agama atau melanggar larangan agama, maka tidak bedanya kita dengan monyet yang mengengam kebodohan dan mempertahankan nafsu. Kita telah menertawakan monyet, padahal menertawakan diri sendiri yang sedang terperangkap dalam jebakan setan.
Ya Allah! Bimbingan-Mu sangat kami harapkan dan pengajaran-Mu kami dambakan. Tunjuki kami agar selalu menapaki hidup di jalan yang benar. Tolong kami agar mampu menghindari jebakan. Beri kami kemampuan menjalankan ibadah penuh keikhlasan.
*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri







