Logo2021

ZONA INTEGRITAS PENGADILAN AGAMA KAB. KEDIRI
lambang1 lambang2 lambang3 lambang4 lambang5 lambang6 lambang7

Ditulis oleh Wakil Ketua on . Dilihat: 219

TIDUR EFEKTIF DAN BERKUALITAS

(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

00232998s6

 

 

            Manuasia perlu istirahat agar tubuh dan pikiran kembali segar. Tenaga yang terporser dan pikiran yang terkuras apabila tidak ada istirahat tentu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Banyak yang mengalami kelelahan akibat kerja keras tanpa istirahat akhirnya jatuh sakit. Begitu pula banyak yang mengalami depresi dan stress karena kelelahan berpikir. Tidur merupakan istirahat terbaik untuk mengembalikan energy dan biasanya sehabis tidur tenaga fresh kembali serta siap menjalankan aktivitas.

            Para ahli kesehatan sepakat, bahwa untuk menjaga kesegaran tubuh manusia dalam sehari semalam harus ada tidur. Normalnya selama satu hari satu malam itu tidur dalam durasi waktu antara enam sampai delapan jam. Kurang tidur atau kelebihan tidur sama sama tidak efektif. Kurang tidur akibatnya badan lesu, muka pucat dan tidak bersemangat. Terlalu banyak tidur mengakibatkan aktivitas terganggu dan waktu terbuang percuma. Semestinya pekerjaan bisa tuntas dan dapat menghasilkan sesuatu, namun karena banyak tidur semua jadi terbengkalai.

            Tidur yang efektif tentu yang sesuai dengan porsinya. Tidak terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak. Tidur efektif ini yang akan menjadikan tidur berguna bagi kesehatan dan bermanfaat untuk aktivitas kehidupan.  Mengingat besarnya manfaat tidur efektif bagi kesehatan dan kehidupan, selain pakar kesehatan jauh sebelumnya Islam telah menyinggungnya. Al-Qur’an surah An-Naba menyebut : “Wa ja’alna naumakun tsubataa”. Dan Kami menjadikan tidur kamu untuk istirahat. Dalam sunah Nabi dan kebiasaan para Ulama terdapat juga tatacara untuk memperoleh tidur efektif.

            Tatacara tersebut menyangkut adab sebelum dan sesudah tidur. Perlunya memperhatikan adab sebelum dan sesudah tidur karena pada saat tidur kondisi anggota tubuh hampir semuanya off. Telinga tidak mendengar, mata tidak melihat, ingatan terhenti, pikiran tidak jalan dan mayoritas organ tubuh istirahat. Dalam kondisi seperti ini ada yang mengibaratkan tidur itu seperti separoh kematian. Melaksanakan adab tidur tujuannya memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Kuasa dari segala hal yang tidak diinginkan terjadi pada saat tidur.

            Sebagai contoh tidurnya orang yang selalu mendapat perlindungan, Imam Al-Qalyubi menceritakan suatu peristiwa yang terjadi pada saat Rabi’atul Adawiyah tidur. Ceritanya sebagai berikut : “Suatu hari, seorang pencuri menyusup ke dalam rumah Rabi’atul Adawiyah. Saat itu si tuan rumah sedang tidur. Pencuri itu mengumpulkan harta yang ada di dalam rumah. Perhiasan, uang, pakaian dan segala peralatan berharga yang mudah dia membawanya. Ketika pencuri itu ingin keluar melalui suatu pintu, tiba-tiba saja pintu menjadi samar dan tidak kelihatan.

Pencuri itu duduk sebentar sambil mengamati semua sudut rumah. Saat itu juga pencuri kaget mendengat suara menakutkan. “Letakkan harta itu dan keluarlah dari pintu depan”. Pencuri itu meletakkan semua barang yang akan dia bawa sehinga nampak pintu rumah terlihat olehnya. Namun setelah melihat jelas pintu keluar, ambisi pencuri timbul kembali untuk membawa barang-barang tadi. Dia mencoba lagi untuk mengambil dan membawa barang tersebut. Pintu rumah Rabi’atul Adawiyah berulang lagi menjadi samar dan pencuri tidak bisa keluar.

Begitu seterusnya berulang kali hingga tiga kali atau lebih. Penglihatan pencuri samar melihat pintu apabila membawa barang dan terang melihat pintu manakala dia meletakkan barang. Suara ajaib itupun kembali menggema, “Apabila Rabi’ah tidur, maka Sang kekasih menjaganya dan tidak mengantuk sama sekali”. Akhirnya pencuri meletakkan semua barang dan keluar dari pintu tanpa membawa barang curian sedikitpun.”

Sekilas mengenai sosok Rabi’atul Adawiyah, dia menjalin hubungan mesra dengan Allah melalui metode cinta. Dia mencintai Allah dalam segala kondisi dan Allahpun mencintainya dalam setiap keadaan. Rabi’ah tidak pernah melakukan pengkhianatan demi cintanya kepada Allah. Selalu hati-hati ketika berbuat sesuatu sebab khawatir kalau kekasihnya marah. Berusaha melakukan sesuatu yang menyenangkan dan menjadi ridha kekasihnya. Senantiasa memperhatikan adab-adab setiap perbuatan sampai kepada tidurpun penuh adab.

Secara sederhana Syekh Hafidz Hasan Al-Mas’udi di dalam bukunya “Taisirul Khallaq” menyebutkan adab-adab tidur (Aadaabun Naum). Patut umat Islam mengikutinya agar tidur menjadi efektif dan berkualitas. Adab-adab tidur menurut beliau suci dari hadats atau berwudhu sebelum tidur. Posisi tidur berbaring di atas lambung kanan dengan menghadap kiblat. Barangkali pakar kesehatan mendukung karena susunan anatomi tubuh posisi jantung manusia berada di lambung kiri. Jika pada saat tidur berbaring ke kiri maka akan memberatkan jantung.

Niatkan tidur untuk mengistirahatkan badan agar kuat beribadah.   Berdasarkan tinjauan hukum syara’ tidur hukum asalnya mubah. Tidak berpahala apabila tidur dan tidak pula berdosa apabila tidak tidur. Namun demikian kasih sayang Allah terhadap umat Nabi Muhammad, sambil tidur saja bisa memperoleh pahala. Tidur bukan untuk bermalas-malasan tetapi bertujuan memulihkan tenaga, menjaga imunitas tubuh dan menguatkan fisik untuk dapat beraktivitas. Lebih utama lagi dengan pulihnya tenaga, terjaga imun dan kuat fisik, ibadah semakin meningkat.

Berdzikir kepada Allah sesaat sebelum tidur dan sesudahnya. Dzikir menurut beliau ini barangkali upaya mengingat dan menyebut nama Allah. Ada yang mengajarkan juga sebelum tidur membaca surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat kursi. Setelah membaca ditiupkan pada kedua telapak tangan dan diusapkan ke seluruh tubuh. Kalau Syekh Nawawi Banten dalam kitab “Kaasyifatus sajaa” mengutip pendapat Ulama, “Barangsiapa membaca sebelum tidur Bismillahirrahmaniarrahin sebanyak 21 kali, niscaya dia aman dari pencurian, aman dari kebakaran dan aman dari mati mendadak.

Selanjutnya Hafidz Hasan mengemukakan hadits nabi. Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika hendak menempati tempat tidurnya di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, kemudian beliau berdo’a, “Allahumma bismika ahya wa amut.” Ya Allah dengan menyebut nama-Mu, aku hidup dan mati. Ketika bangun tidur beliau berdo’a, “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amaatanaa wailahin nusyuur”. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya dibangkitkan semua makhluk.

Sederhananya adab tidur begitu, walaupun menurut versi lain ada yang lebih detail lagi. Begitu pula ada waktu waktu yang kurang pantas apabila tidur saat itu. Misalnya sesudah subuh tidak baik tidur, karena akan mewarisi kefakiran. Tidur sesudah ashar tidak baik, karena akan mewarisi ketidak cerdasan. Tidur sesudah maghrib tidak baik, karena menghilangkan kesempatan meraih kebaikan. Pada waktu-waktu tersebut sebaiknya tidak tidur kecuali dalam kondisi terpaksa karena tidak mampu lagi menghindari.

Semoga Allah membimbing kita dalam mengatur pola tidur yang efektif dan berkualitas sehingga bisa memulihkan tenaga, menjaga imunitas tubuh dan menguatkan fisik untuk dapat beraktivitas serta meningkatkan ibadah.

*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Add comment


Security code
Refresh

Layanan dan Prosedur Berperkara Untuk Disabilitas

 

 

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Kab. Kediri

Jl. Sekartaji, No. 12 - 64101

Ngasem - Kabupaten Kediri

Jawa Timur Telp: 0354 - 682175


Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

           Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


 

Media Sosial :

FB icon IG icon YT icon GMAP


 

Pengadilan Agama Kabupaten Kediri@2020