Logo2021

ZONA INTEGRITAS PENGADILAN AGAMA KAB. KEDIRI
lambang1 lambang2 lambang3 lambang4 lambang5 lambang6 lambang7

Ditulis oleh Wakil Ketua on . Dilihat: 195

TRADISI MEGENGAN

(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

WhatsApp Image 2022 04 04 at 08.10.45

 

            Perasaan gembira sering muncul dalam benak seseorang. Kegembiraan membawa semangat dalam kehidupan. Banyak hal yang membuat orang menjadi gembira. Antara lain gembira ketika mendengar berita bahwa orang tercinta mau datang. Betapa tidak, karena selama ini sudah lama menunggu dan merindukan kehadirannya. Kedatangan orang tercinta ini disertai keyakinan pasti akan membawa nilai tambah yang menyenangkan.

            Ekspresi kegembiraan nampak saat menyongsong kehadirannya dengan melakukan berbagai persiapan. Mulai dari menyiapkan diri, menyiapkan fisik dan menyiapkan tempat yang berkaitan dengan kedatangannya. Sebagai contoh kecil kebiasaan sebagian orang ketika menyambut kedatangan keluarga dari tanah suci Makkah. Anak sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kedatangan orang tua tercinta.

            Mempersiapkan transportasi ke tempat penjemputan. Membuat pintu gerbang dengan ucapan selamat datang. Menghias dan membersihkan rumah agar yang mau datang merasa senang. Mengumpulkan sanak keluarga dan handai tolan supaya lebih semarak. Menyediakan hidangan makanan untuk acara tasyakuran. Persiapan jauh sebelum hari kedatangan agar penyambutan benar-benar matang. Sikap seperti ini tidak lain hanya menunjukan rasa gembira dan senang hati atas kedatangan orang tercinta.

            Bulan Ramadhan sebagai bulan mulia di antara bulan-bulan lain. Kedatangannya membawa rahmat dari Allah Swt untuk semua orang beriman. Kabar keberuntungan banyak tersedia di bulan ini. Kasih sayang Allah melimpah ruah dan tercurah untuk orang Islam. Pahala berlipat ganda dan bonus kebaikan tidak terhingga banyaknya. Iklan menarik senantiasa tayang memotivasi umat agar tidak ketinggalan dalam meraih kebahagiaan dunia akhirat. Begitu hebatnya kemuliaan bulan ini sampai Nabi menjulukinya “Syahrun ‘Adziim”, bulan yang agung.

            Umat Islam patut bergembira atas datangnya bulan ini. Semua level umat berharap belaian kasih Ramadhan. Orang taat berharap datangnya Ramadhan bisa meningkatkan ketaatannya. Bagi yang bermaksiat mengharap tetesan ampunan sehingga bisa membawa perubahan hidup. Semakin tinggi levelnya malah semakin kuat rindunya untuk bertemu Ramadhan. Dengan demikian wajar jika umat Islam menampakkan kegembiraannya menyambut kedatangan Ramadhan.

            Megengan salah satu upacara umat Islam di Tanah Jawa umumnya dan di Jawa Timur khususnya dalam menampakkan kegembiraan ketika menyambut Ramadhan. Daerah lain juga ada dengan nuansa yang sama hanya cara dan sebutannya berbeda. Kalimantan menyebut mamagang. Mungguhan dari Sunda. Nyorog dari Betawi. Balimau dari masyarakat Padang. Jalur pacu dari Riau. Meugang dari Serambi Makkah Aceh. Dugderan atau Dandangan dari Jawa Tengah. Mungkin di setiap daerah ada cara dan sebutannya tersendiri.

            Suatu ketika di akhir bulan Sya’ban, piminan kantor tempat kami bertugas di Jawa Timur mengagendakan upacara megengan. Sebagai karyawan pendatang, mulai saat itu kami baru tahu tentang megengan. Sebelum upacara berlangsung, seorang tokoh Jawa yang kebetulan juga unsur pejabat kantor menyampaikan pengantar. Nama tokoh itu Bapak Heri Eka Siswanta, S.H., M.H. Dalam pengantarnya banyak menjelaskan tentang tradisi megangan.

            Menurut Eka, “perayaan megengan adalah tradisi umat Islam Jawa Timur dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan”. Kata megengan dari kata megeng yang artinya menahan. Hubungannya dengan Ramadhan terkait ibadah puasa yang arti puasa itu sendiri imsak atau menahan. Perayaan megengan digelar pada minggu terakhir bulan Sya’ban. Tradisi ini turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Menurutnya, ada dugaan kuat kalau tradisi ini pencetusnya adalah Sunan Kalijaga. Alasannya banyak pendapat mengatakan kreasi-kreasi yang bernuansa perpaduan ajaran Islam dan adat Jawa dari pemikiran Sunan Kalijaga.

            Lebih lanjut Eka memaparkan, dalam adat Jawa sering menyelenggarakan selamatan. Orang Jawa mengadakan selamatan ketika mendapatkan sesuatu kegembiraan atau berharap untuk mendapatkan kegembiraan. Gembira menyambut tibanya bulan suci mereka juga selamatan. Pelaksanaannya bisa di Masjid, di Surau ataupun di rumah. Umat Islam berkumpul di suatu tempat dalam suasana gembira sambil berdo’a mengharap keselamatan dan bimbingan dari Gusti Allah.

            Harapan supaya umat Islam mendapat bimbingan sehingga mudah dan lapang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Acaranya zikir bersama, membaca tahlil untuk para leluhur, istighasah dan istighfar bersama. Selanjutnya selamatan, makan bersama dengan makanan berupa berkat yang disajikan. Kemudian jamaah bermaaf-maafan dan dianjurkan setelahnya ziarah ke makam kerabat masing-masing untuk mendo’akan agar para almarhum mendapat ampunan Allah.

            Eka juga menjelaskan mengenai aksesoris makanan dari sajian berkat. Selain nasi dengan perangkat lauk secukupnya, tambahan yang hampir hampir selalu ada yaitu tebu, pisang raja dan kue apem. Makanan tambahan ini untuk daerah Jawa sangat mudah mendapatkannya. Pengertian lain dari makanan ini, tebu sebagai sumber manis dengan harapan setelah memakan tebu pembicaraan selalu manis. Pisang mengandung kalori yang sangat tinggi sebagai symbol dari makanan bergizi, memakan pisang dengan harapan memperoleh kesehatan fisik.

            Adapun kue apem, itu katanya dari kata bahasa Arab yaitu “Afwan” yang berarti maaf. Makanan ini sebagai isyarat agar umat Islam saling memaafkan. Dalam memasuki bulan Ramadhan akan lapang dada apabila sudah tidak ada kesalahan antar sesama. Sangat elok sebelum meraih maghfirah ampunan Allah lebih dahulu memperoleh kemaafan dari orang sekitar. Memberi dan meminta maaf termasuk tuntunan agama. Tanpa beban kesalahan dengan orang lain biasanya ibadah mudah terlaksana dan do’a cepat terkabulkan.

            Rasa gembira dalam diri seseorang mahal harganya. Perasaan gembira banyak pengaruhnya bagi kesehatan fisik dan mental. Orang periang biasanya lebih sehat daripada orang pemurung. Orang pemurung sering tertimpa penyakit. Begitu juga kegembiraan berdampak terhadap kesuksesan dalam meraih prestasi kerja. Orang yang selalu gembira kebanyakannya lebih sukses bidang usaha dibandingkan orang yang selalu sedih.

            Gembira menyambut kedatangan Ramadhan merupakan sikap batin yang siap menerima kebaikan. Bagaimanpun cara dan ekspresinya, sangat penting pula memanfaatkan moment kesempatan bertemu Ramadhan dengan sajian ibadah wajib dan sunat. Memaksimalkan jiwa raga selalu gembira melaksanakan kewajiban dan gembira dapat menghindari larangan. “Semoga dengan cara ini Allah mengharamkan jasad kita tersentuh api neraka”.

*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Add comment


Security code
Refresh

Layanan dan Prosedur Berperkara Untuk Disabilitas

 

 

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Kab. Kediri

Jl. Sekartaji, No. 12 - 64101

Ngasem - Kabupaten Kediri

Jawa Timur Telp: 0354 - 682175


Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

           Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


 

Media Sosial :

FB icon IG icon YT icon GMAP


 

Pengadilan Agama Kabupaten Kediri@2020