Logo2021

ZONA INTEGRITAS PENGADILAN AGAMA KAB. KEDIRI
lambang1 lambang2 lambang3 lambang4 lambang5 lambang6 lambang7

Ditulis oleh Wakil Ketua on . Dilihat: 77

REFLEKSI AWAL TAHUN

(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

 

060927000 1618457252 muslim 6052483 1280

            Penanggalan tahun hijriyah baru berakhir dan berganti lagi dengan tahun yang baru. Umat Islam banyak menaruh harapan saat mengawali tahun baru ini. Berharap agar lebih baik dari tahun kemaren. Harapan tersebut mereka refleksikan dalam pembuatan steker bertuliskan “Selamat memasuki tahun baru Islam”. Selain itu tidak terlupakan pula membaca do’a awal tahun agar tahun ini membawa angin segar ke arah perbaikan segala hal. Perubahan kondisi dari buruk menjadi baik dan dari baik menjadi lebih baik. Berharap semakin membaiknya ihwal kehidupan dunia, apalagi kehidupan akhirat.

            Setiap muslim mencita-citakan dan mencanangkan kebahagiaan yang tidak sekedar di dunia saja tetapi berlanjut sampai akhirat. Mereka setiap hari mengikrarkan cita-cita tersebut secara berulang-ulang dalam lantunan do’a. Demikian seriusnya umat Islam bercita-cita karena meyakini setelah kehidupan dunia ada akhirat yang kekal selamanya. Hidup di dunia sebatas bilangan tahun yang relative singkat. Sedangkan akhirat tidak ada batas akhirnya. Sebutannya juga akhirat yang berarti akhir dari ujung kehidupan dan tiada akhir lagi setelah itu.

            Manusia cerdas sesungguhnya yang berpikir bahwa hari ini lebih baik dari kemaren dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hari ini merupakan waktu saat seseorang berada dan esok adalah hari setelah hari ini. Pengertian lain, hari ini merupakan saat seseorang berada di dunia dan esok adalah hari akhirat. Orang yang cerdas mampu menjadikan hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setelah hari ini terus ada peningkatan kebaikan. Jika tahun sebelumnya dapat meraih kebahagian, maka kebahagian itu tetap menjadi perhatian untuk hari esok dan di akhirat lebih bahagia lagi.

            Mengingat luhurnya cita-cita tersebut, seorang muslim berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraihnya. Berjuang lahir batin mewujudkan segala impian baik. Terus memperbaiki diri tiada henti. Mengerahkan segenap potensi dalam melakukan perubahan. Menganalisa titik kelemahan tahun lalu sebagai pengalaman buat menata keadaan tahun ini. Andai pada tahun lalu terjadi kegagalan, maka pada tahun ini berusaha agar kegagalan tersebut tidak terulang lagi sehingga bisa meraih kesuksesan. Seandainya pada tahun lalu sering berbuat salah, tahun ini bertekad memperbaiki diri.

Seorang yang berbuat salah apabila tidak segera memperbaikinya maka kesalahan itu akan menjadi kebiasaan. Begitu pula apabila seseorang mengerjakan maksiat apabila tidak segera mengakhirinya lambat laun pekerjaan itu akan menjadi tabiat. Kalau sudah menjadi kebiasaan apalagi sudah menjadi tabiat tentu akan sulit memperbaiki. Ibarat besi yang sudah terlanjur berkarat jika dibiarkan karatnya semakin tebal dan tambah susah menghilangkannya kecuali dengan tekad yang sungguh sungguh dan penuh kesabaran.

Moment pergantian tahun layaknya untuk menganalisa diri, karena dengan berganti tahun memang satu sisi menambah bilangan usia tetapi sisi lain mengurangi jatah usia. Mengingat berkurangnya usia manusia layak memperbaiki kesalahan dan meninggalkan kemaksiatan. Bukan sebaliknya malah menumpuk kesalahan dan memperbanyak maksiat. Alangkah ruginya seseorang yang telah mengukir namanya dengan tinta kebaikan, tapi di ujung kehidupan dia mencoret nama tersebut dengan tinta keburukan.

Memang seorang yang baik bukan berarti yang tidak pernah berbuat salah, tetapi orang yang baik adalah yang segera memperbaiki kesalahan. Cepat mengambil langkah merubah keadaan selagi ada kesempatan. Syihabuddin Al-Qalyubi dalam kitabnya An-Nawadir meriwayatkan. “Pada zaman Bani Israil dahulu ada seorang lelaki setengah baya setelah menganalisa diri lalu mengetahui kondisi dirinya. Selama dua puluh tahun berbuat taat dan dua puluh tahun berikutnya berbuat maksiat”.

            “Suatu ketika dia memegang cermin dan melihat wajah aslinya. Janggutnya beberapa lembar telah berubah warna menjadi putih karena beruban. Kulitnya mulai kriput dan badan sering lesu. Sadarlah dia kalau usianya sudah tua dan lebih dekat kepada kematian. Hal ini membuat dirinya susah dan gundah. Dia mengadu kepada Tuhan : “Ya Tuhanku. Aku berbuat taat kepada-Mu selama dua puluh tahun dan kemudian aku hapus dengan bermaksiat selama dua puluh tahun pula. Apakah Engkau masih berkenan menerima kehadiranku?”.

“Setelah itu dia mendengar suara dari arah pojok. “Apabila engkau datang kepada Kami, maka Kami datang kepadamu. Apabila engkau meninggalkan Kami, maka Kamipun meninggalkanmu. Apabila engkau masih bermaksiat kepada Kami, maka Kami membiarkan untuk tidak memperdulikanmu. Apabila engkau kembali kepada Kami dengan bertaubat, maka Kami bersedia menerimamu”. Suara itu kemudian menghilang dengan meninggalkan pesan kepada laki-laki untuk segera bertaubat.

Rupanya Tuhan masih sayang kepada hamba-Nya walau hamba itu berlumuran dengan dosa. Kesalahan teramat besar tetapi di dadanya masih tersimpan seberkakas cahaya iman, Besarnya dosa seseorang beriman masih kecil jika dibandingkan dengan luasnya ampunan Allah. Tuhan tetap memberi kesempatan kepada hamba yang mau memperbaiki diri. Allah yang maha penyayang tidak menatap kepada jumlah kesalahan seseorang, tetapi memperhatikan bagaimana kesungguhan seseorang untuk kembali ke jalan yang benar.

Awal tahun mengajarkan seseorang menatap masa depan gemilang. Rahmat Allah meliputi segalanya. Orang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Dalam hidup selalu berharap dan berusaha memperbaiki keadaan. Waktu yang tersisa merupakan kesempatan emas untuk mengejar ketertinggalan. Menggunakan potensi berupa karunia Tuhan untuk hal yang berguna buat kebaikan masa depan. Masih syukur Allah memberi kesempatan hidup. Bila tiba saatnya Allah maha berkuasa untuk menarik usia manusia.

Mengukir masa depan dengan penuh harapan termasuk ajaran agama. Islam memerintahkan manusia hidup optimis meraih kebaikan. Banyak ayat Al-Qur’an berisi rangsangan dan sugesti bahwa manusia asal saja mau berusaha pasti berhasil. Misal, ada ayat Al-Qur’an mengumpamakan seseorang yang menanam satu bibit tanaman. Satu biji bibit itu akan tumbuh sebatang pohon dengan tujuh cabang. Setiap cabang akan menghasilkan 100 buah dan dari tujuh cabang berarti menghasilkan 700 buah. Secara matematika setiap usaha karya seseorang tidak ada yang sia-sia.

Sepotong ayat tersebut menjadi motivator bagi pencari keberhasilan. Manusia beriman yakin terhadap kebenaran ayat itu. Terdapat sugesti agar seseorang rajin berusaha atau beramal. Sehari-hari umat beriman menerapkannya ketika ingin meraih keberhasilan dunia maupun akhirat. Intisari ayat tersebut bahwa setiap orang yang berusaha atau beramal baik akan memperoleh hasil. Modalnya cuma sedikit tetapi untungnya melimpah ruah. Tenaga tidak begitu terkuras tetapi hasilnya memuaskan dan balasan Allah berlipat ganda.

Refleksi di awal tahun mengandung nilai spirit agar umat beriman menatap masa depan dengan penuh harapan. Tangguh menghadapi segala tantangan dengan tetap menjaga stabilitas iman. Menggunakan kesempatan yang masih tersisa untuk mengoreksi kesalahan dan memperbaikinya. Tetap berbenah diri dengan meningkatkan usaha dan menyempurnakan amal ibadah. Semoga kita bisa meraih kebahagiaan hakiki fiddunya wal akhirah.

*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri

Add comment


Security code
Refresh

Layanan dan Prosedur Berperkara Untuk Disabilitas

 

 

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Kab. Kediri

Jl. Sekartaji, No. 12 - 64101

Ngasem - Kabupaten Kediri

Jawa Timur Telp: 0354 - 682175


Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

           Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


 

Media Sosial :

FB icon IG icon YT icon GMAP


 

Pengadilan Agama Kabupaten Kediri@2020