KEMERDEKAAN BANGSA
(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun RI. Indonesia lahir sebagai Negara yang merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945. Sebelumnya bangsa Indonesia berada di bawah kekuasaan bangsa asing, imprialis Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan, bangsa Indonesia selalu mendapat tekanan berat. Tindakan sewenang-wenang dan penindasan yang dilakukan oleh penjajah telah menimbulkan kesengsaraan dan kepedihan bagi segenap bangsa Indonesia.
Buku-buku sejarah menyebutkan kekejaman penjajah seperti tanam paksa, rakyat dipaksa bekerja, bahkan kadang dituntut bekerja di kebun yang letaknya sampai puluhan kilometer jauhnya dari desa. Selain itu, kerja juga dilakukan di bawah todongan senjata. Akibatnya, kemiskinan dan kelaparan menjalar di banyak tempat. Dalam perjalanannya, banyak pria bumiputra diperbudak menjadi pekerja kasar. Sementara perempuan dijadikan pemuas nafsu berahi dan pengurus rumah tangga orang-orang penjajah. Apabila mereka membangkang, hukumannya sangat kejam.
Para petani diperintah untuk tanam paksa, namun tetap harus membayar pajak. Rakyat wajib membayar pajak ketika melewati jembatan, jalan raya, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia semakin menderita. Penjajah sangat mengawasi dan membatasi pers. Bahkan semua media massa pun disegel sehingga informasi terkunci. Ketika banyak pengusaha swasta membangun perusahaan di nusantara, rakyat beralih menjadi buruh yang dipaksa bekerja habis-habisan dengan upah rendah. Makanan, kesehatan dan kesejateraan mereka tidak terjamin.
Rakyat merasakan setiap hari penderitaan demi penderitaan. Kondisi ini menumbuhkan semangat untuk keluar dari berbagai penderitaan yang mereka alami. Di berbagai daerah muncul perlawanan terhadap penjajah. Melawan sekuat tenaga dan daya seadanya. Sering terjadi perang dan pertumpahan darah di mana-mana. Ulama dan santri bergabung dengan tentara rakyat memanggul senjata. Semua memiliki semangat juang dan bertekad “lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah” Bismillahi Allahu Akbar sebagai kalimat komando jihad membela Negara.
Sejarah mencatat banyak perlawanan rakyat bermunculan yang menunjukan mereka anti penjajah. Perlawanan kesultanan Ternate di bawah pimpinan Sultan Babullah. Perlawanan kesultanan Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Perlawanan kesultanan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Perlawanan kesultanan Mataram oleh Sultan Agung. Perlawanan kesultanan Goa di bawah komando Sultan Hasanudin. Perlawanan kesultanan Maluku pimpinan Pattimura. Perlawanan Kaum Padri. Perlawanan pahlawan Diponogoro. Perlawanan Si Singamangaraja. Gusti Ngurah Rai di Bali. Perang Jagaraga, perang Banjar, perang rakyat Aceh dan sebagainya.
Dari Sabang sampai Marauke rakyat melawan. Kecintaan mereka terhadap tanah air tidak pernah pudar. Semboyan “haram menyerah melawan penjajah” menjadi penyemangat. Tertanam dalam jiwa anak bangsa bahwa mencintai tanah air bagian dari iman. Berperang demi tanah air adalah suatu kemuliaan. Tunduk terhadap penjajah suatu kehinaan. Getaran iman melahirkan kekuatan supranatural. Banyak hal terjadi di luar nalar namun menunjukan suatu kenyataan. Rakyat tampil apa adanya bisa membuat penjajah kucar kacir berhamburan.
Mustahil panah dan bambu runcing bisa mengalahkan peralatan cangih milik penjajah, tapi itulah kenyataan. Meriam dan tangker kepunyaan penjajah banyak yang tidak berpungsi serta salah sasaran. Keikhlasan para pejuang bangsa seakan melahirkan kekuatan. Merka berani melawan demi membela kebenaran. Para pahlawan tidak pernah sombong dengan setiap kemenangan. Mengukur kelemahan diri satu sisi dan meyakini keagungan Tuhan pada sisi lain. Maju ke medan laga penuh keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan.
Perlawanan demi perlawanan terjadi hingga mencapai klimaks. Bangsa Indonesia akhirnya berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kemerdekaan tentunya bukan hadiah bangsa lain, tetapi benar-benar jerih payah bangsa sendiri. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaannya. Rahmat Allah menyertai bangsa ini dapat keluar dari kungkungan bangsa asing. Penjajah terakhir yaitu Jepang bertekuk lutut di hadapan bangsa Indonesia. Kedaulatan negara sudah berada di tangan anak bangsa.
Keberhasilan ini tidaklah suatu rekayasa, tetapi benar-benar suatu anugerah. Para pendiri Negara mengakui adanya campur tangan Allah dalam meraih kemerdekaan. Hal ini mereka tunjukkan baik dalam ideology Negara maupun pada dasar Negara agar bangsa ini selalu ingat Tuhan. Dalam ideology Pancasila termuat pada sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam dasar Negara yaitu pada Undang-Undang Dasar 1945, bagian dari pembukaannya menyatakan bahwa bangsa Indonesia bisa meraih kemerdekaan adalah berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Maha Kuasa Allah memberi anugerah kemerdekaan bangsa. Keberhasiln tercapai setelah ada usaha dan perjuangan para pendahulu. Mereka berjuang dengan mengerahkan segenap tenaga dan pikiran. Melawan kekejaman, kezaliman, penindasan, ketidak adilan serta keserakahan penguasa sang penjajah. Tetesan keringat, linangan air mata dan kucuran darah para pahlawan menjadi saksi sebuah perjuangan. Jenazah yang terbunuh akibat kekejaman penjajah sebagai bukti pengorbanan nyawa demi sebuah harapan. Kesungguhan mereka dalam memerdekakan bangsa patut menjadi teladan.
Kemerdekaan yang merupakan hasil perjuangan orang terdahulu itu saat ini anak bangsa telah menikmatinya. `Sebagai penikmat kemerdekaan patut bersyukur kepada Tuhan dengan melanjutkan hasil perjuangan orang terdahulu. Berjuang merebut kemerdekaan adalah tugas orang terdahulu, sedangkan mempertahankan kemerdekaan adalah tanggung jawab orang sekarang. Orang terdahulu telah mewariskan kemerdekaan sebagai amanah agar anak bangsa saat ini melestarikan nilai kemerdekaan dalam kehidupan bernegara.
Kemerdekaan mengamanahkan agar bangsa bertakwa kepada Tuhan pemberi anugerah. Kemerdekaan menghendaki agar terwujud suasana aman sentosa dan damai sejahtera. Masyarakatnya merdeka dari kezaliman dan ketidak adilan. Jauh dari kebohongan dan kepura-puraan. Terbebas dari kebodohan dan dan kemiskinan. Pandai menjadi pemain dan bukan sekedar menjadi penonton. Mampu menjadi pengusaha di negerinya, bukan sekedar menjadi buruh di negeri sendiri. Amanah besar terbeban di pundak penguasa negeri agar merealisasikan nilai kemerdekaan di tengah masyarakat.
“Ya Allah. Jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman. Berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”.
*Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Kediri







